Produk Kami

Mentawai VCO
Laku Jualan Si Virgin PDF Print E-mail
Written by Dody Baswardojo   
Friday, 04 February 2005

Peluang dan ancaman bisnis VCO (KONTAN no. 18, Tahun IX, 7 Februari 2005)

VCO menjadi produk agribisnis yang lagi ngetop lantaran diyakini manjur menyembuhkan berbagai penyakit. Permintaannya terus meningkat,dan pasar ekspor masih menganga lebar. Namun, standar kualitas masih jadi persoalan.
(Djumyati Partawidjaja, Asih Kirana Wardani)
______________________

VCO atau virgin coconut oil lagi naik daun di Indonesia. Ditempat arisan, di tempat kerjaan, sewaktu berkumpul dengan teman-teman, hingga ajang gaul lewat milis internetpun menjadikan VCO sebagai buah bibir yang hangat. Berbagai iklan produk ini juga cukup banyak menghiasi media massa belakangan ini.

VCO sebenarnya sejenis minyak kelapa. Bedanya, kalau minyak kelapa yang umum beredar di pasara itu terbuat dari kopra (kelapa yang dikeringkan), VCO dibuat dari daging kelapa segar yang diolah tanpa bahan kimia. Proses pembuatannya tidak melalui pemutihan, penyaringan, atau pemanasan luar biasa yang bisa menghanyutkan manfaat alami sang minyak. Makanya ia dibilang sebagai minyak kelapa murni.

Nah, VCO ramai dibicarakan orang lantaran berkhasiat buat tubuh kita. Minyak kelapa bening ini mengandung banyak lauric acid, sebanyak 25 - 45 %. Adanya zat utama yang juga terkandung  dalam air susu ibu inilah yang membuat VCO ramai disebut-sebut sebagai pembasmi berbagai penyakit. Sebut saja cacar air, herpes, hepatitis, bahkan HIV/AIDS; juga membantu meringankan penyakit kanker.

VCO juga tidak mengandung kolesterol, bahkan disebut-sebut pula bisa mengurangi penyumbatan pembuluh darah, mengurangi kelebihan berat badan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan mencegah penuaan dini. Ada yang percaya, meminum satu sendok teh VCO setiap hari bisa membuat kulit dan rambut bersinar cerah.

Seiring dengan maraknya berbagai berita mengenai kehebatan VCO, permintaan atas minyak kelapa mujarab ini terus meningkat pula; padahal harganya cukup mahal. Saat ini di Jakarta harga VCO antara Rp 100.000 sampai Rp 300.000 per liter, sementara untuk pasar ekspor berkisar US$ 10 - US$ 12 per liter. Belum lagi bila produsen luar negeri kemudian mengemas VCO menjadi obat. "Harganya bisa US$ 18 per 16 ml (US$ 1.125 per liter)," tutur Ridwan, pemilik Indokarta Lamas, produsen VCO di Jakarta.


Sayang, belum ada standar mutu

Kalau tidak mau sekadar menjadi konsumen, mari kita bikin sendiri VCO ini. Ada tiga cara memisahkan minyak dari santan kelapa. Pertama, perasan kelapa dipanaskan. Kedua, dengan bantuan enzim atau difermentasi dengan menggunakan VCO sebagai "biang" pada temperatur rendah. Ketiga,penggabungan kedua metode itu.

Untuk membuka usaha pembuatan VCO dengan metode enzim, butuh modal yang amat besar, sekitar Rp 15 miliar. Sebagian besar modal itu habis untuk membeli berbagai macam mesin dan peralatan.

Tapi, usaha skala rumahan yang bermodal relatif kecil bisa memproduksi minyak kelapa murni ini lewat metode pemanasan atau fermentasi. Paling anda hanya butuh mesin parutan kelapa yang harganya sekitar Rp 1 juta. Kalaupun tak punya modal untuk membeli mesin pemarut kelapa, usaha Anda tetap bisa jalan. "Sediakan modal untuk beli kelapa saja," tutur Frans, pengusaha VCO di Jakarta.

Frans sendiri, dengan peralatan sederhana, mengaku baru memproduksi 20 liter VCO per bulan. Adapun Maria Susana Hartanti, pemilik PT. Giri Wangi, benar-benar memproduksi VCO tanpa mesin parutan. "Saya mengerjakan pembelahan, pemarutan, dan pemerasan kelapa tanpa mesin, supaya hasilnya lebih bagus," ujar produsen yang menjual 100 liter VCO per bulan ini. Bahkan, Ridwan, mampu memproduksi 40.000 - 50.000 liter VCO per bulan dengan sistem padat karya alias tanpa mesin.

Mereka mengaku tak begitu sulit memasarkan VCO olahannya. Frans contohnya, memasarkannya kepada kerabat atau kenalannya, juga lewat milis-milis. Begitu juga dengan Maria yang menjajakan minyaknya lewat internet.

Soal untung dari bisnis pembuatan VCO ini, mari coba kita hitung. Untuk menghasilkan 1 liter VCO biasanya dibutuhkan setidaknya 10 butir kelapa segar. Bila harga sebutir kelapa Rp 4.000, total biaya bahan baku kelapa Rp 40.000. Biaya-biaya lain yang harus dikeluarkan antara lain bahan bakar, tenaga kerja, pengemasan, dan pengiriman; yang dihitung-hitung jatuhnya tak sampai Rp 20.000 per liter. Ditambah biaya bahan baku kelapa, total biaya produksinya paling Rp 60.000 per liter. Kalau harga jualnya sekitar Rp 100.000 per liter, artinya margin bersihnya lebih dari 40 %.

Cara bikinnya sederhana, proyeksi labanya menggiurkan. Cuma, ingat, meskipun peminatnya semakin banyak, tetapi secara keseluruhan VCO belum benar-benar dikenal luas oleh masyarakat kita. Pasarnyapun hingga saat ini masih terbatas. Jumlah orang Indonesia yang begitu royal mau membeli minyak kelapa seharga Rp 100.000 per liter tentu tak banyak. Selain potensi pasar lokal yang terbatas, belakangan jumlah pemainnya terus bertambah.

Satu lagi, menurut seorang pemain, sebenarnya saat ini di pasaran lokal banyak beredar VCO yang standar mutunya tak jelas. Kandungan lauric acid-nya juga jauh di bawah standar internasional; 25 %. "VCO menjadi nama ajaib yang begitu mudah diklaim banyak orang. Kita juga belum punya badan yang mengatur standar kualitas VCO," ujar sumber itu. Padahal bila kandungan asam lauric-nya di bawah 25 %, VCO tak berkhasiat. Pada gilirannya, bila kondisi ini tak dibenahi, orang-orang akan mulai kecewa dan meragukan khasiat VCO, sehingga harga jualnya akan turun.


Pasar ekspor masih menganga

Namun itu tak berarti prospek bisnis VCO sudah keburu sunset atawa tenggelam. Ada ceruk pasar yang masih menganga lebar, yakni pasar ekspor; khususnya pasar Malaysia, Singapura, Taiwan, Jepang, dan negara Asia lainnya.

Cuma, untuk menembus pasar ekspor ini Anda tak bisa mengandalkan metode tradisional yang lebih banyak menembak pasar pembeli lokal. Sebab, pembeli asing ini minta produk dengan standar kualitas yang ketat. Salah satunya, kandungan asam lauric minimal 25 %.

Nah, untuk menghasilkan VCO yang memnui standar ekspor, kita butuh modal lumayan besar. Ini yang dilakukan Jaka Dhama Limbang, salah satu pendiri PT Miracle Virgin Oil, yang berlokasi di Sei Itik, Pontianak. Penghasil VCO yang menggabungkan metode enzim ini menghabskan biaya sebesar Rp 15 miliar untuk membeli mesin reaktor enzim buatan Jerman dan berbagai peralatan lainnya. Dengan kapasitas mesin 90.000 butir kelapa per hari, Jaka yakin investasi bakal balik dalam waktu 5 - 7 tahun.

Berkat mesin canggih yang berfungsi memarut, memeras dan mencampurkan enzim dengan sistem komputer ini, Miracle Virgin Oil tidak kesulitan melemparkan produknya ke luar negeri dengan harga US$ 10 - US$ 12 per liter. Saat ini Miracle sudah mengekspor produknya ke Jepang dan Singapura. "Dengan alat canggih itu kualitas VCO memenuhi standar dan kami sudah punya kontak bisnis dengan pengusaha Jepang," tutur Jaka.

Disamping modal dan pemenuhan standar produksi, ada faktor lain yang amat menentukan sukses tidaknya usaha VCO; ketersediaan dan kestabilan bahan baku. Seperti biasa, apapun yang makin banyak dicari bakal melonjak naik harganya. Tidak terkecuali dengan kelapa segar. Saat ini harga kelapa segar berusia siap panen (sekitar 2,5 bulan) sudah mulai merangkak naik. Sebutlah di Yogyakarta yang lagi dilanda musim VCO, harga kelapa yang baru dipetik sudah naik dari Rp 2000 menjadi Rp 4000 per butir.

Jadi, sebelum membuka usaha ini, sebaiknya pastikan anda membuka usaha di sentra kelapa atau di lokasi yang banyak populasi kelapanya. "Pokoknya tidak jauh dari lokasi perkebunan, supaya kelapanya masih segar," kata Jaka Dhama, yang melihat Jambi sebagai salah satu lokasi yang tepat untuk membuka usaha VCO. Selain itu, bila memproduksi di wilayah ini, Anda bisa menekan biaya pengangkutan.

Nah, Anda tertarik menjajal bisnis minyak perawan dari perasan buah nyiur ini?

Last Updated ( Thursday, 09 June 2005 )
 
< Prev   Next >