| Formula Pengkilap Daun |
|
|
|
| Written by Dody Baswardojo, Ir. | |
| Sunday, 30 September 2007 | |
![]() Good Formula 2 Pengkilap daun yang satu ini, lahirnya diilhami karena belum adanya kepastian tentang pengkilap lain yang digunakan saat. Pengkilap yang ada, sifatnya masih coba2. Sebut saja ada yang menggunakan berbagai jenis minyak, mulai dari olie mobil, baby oil, virgin coconut oil, olive oil, minyak wijen, minyak jarak, sampai dengan susu sapi dan susu bayi juga dicoba. Masing2 mengklaim mempunyai khasiat dan keunggulannya. Lilin cairpun pernah dicoba. Misal yang paling banyak digunakan adalah susu sapi dan virgin coconut oil atau VCO. Susu sapi berlemak diklaim mampu mengkilapkan daun dan sekaligus memberikan nutrisi. Apakah benar demikian? Untuk berapa lama mengkilapnya? Sejauh mana kilapnya? Apakah tidak ada efek negatip secara langsung dan tak langsung bagi tanaman yang dioles daunnya dengan susu sapi? Pengalaman di lapangan menunjukkan, kilap daun yang di oles VCO jauh lebih baik dibandingkan dengan yang dioles susu sapi berlemak. Namun kilapnya tidak mampu bertahan lama. Apabila ruangan tidak bebas debu, debu lengket dan lebih sulit untuk dibersihkan. Demikian pula, apabila ruangan tidak bebas semut, justru adanya sisa susu dan VCO ternyata mengundang banyak semut. Demikian pula, susu sangat digemari oleh jamur maupun kapang. Alhasil pada akhirnya, kalau tidak hati2 akan mengundang masalah baru. Tentu saja, untuk dapat menjadi sebuah produk kosmetika yang unggul, harus mempunyai sifat2 yang memperbaiki penampilan dan sekaligus mampu memberikan proteksi terhadap lingkungan luar. Nah, syarat apa saja yang diperlukan untuk membuat produk PENGKILAP DAUN? Pertama, daun yang dioles harus benar2 mengkilap dan bertahan cukup lama. Makin lama juga makin baik dan menguntungkan konsumen. Kedua, tidak merusak tanaman atau mendatangkan masalah. Pada kasus penggunaan VCO dan susu sapi berlemak untuk pengkilap daun bagi keperluan indoor masih bisa disarankan, tetapi apabila out door dan terkena sinar matahari langsung bias fatal. Lemak adalah penghantar panas yang sempurna. Akibatnya daun menerima panas tinggi secara langsung. Daun, terutama khlorophyle menjadi rusak terbakar. Daun mula2 menggulung dan akhirnya kering berwarna coklat. Apalagi kalau jumlah VCO atau susu sapi berlemak cukup banyak dioles (tanpa dicampur dengan air untuk diencerkan). Ini merupakan kerusakan langsung, yang tidak langsung adalah karena mendatangkan semut, serangga lain, jamur dan kapang. Belum lagi tikus dan kucing yang mencium bau harum dari susu berlemak. Ketiga, pengkilap daun harus dapat berfungsi melindungi permukaan daun yang dioles. Sehingga kegunaannya maksimal. Nah produk pengkilap yang memenuhi kriteria di atas pastilah akan diminati oleh konsumen. Karena penampilan tanaman bunga kesayangannya akan makin menonjol dan nampak jauh lebih cantik. Aura tanaman akan menjadi luar biasa. Hasil uji Trubus terhadap produk yang telah beredar di pasaran menunjukkan, bahwa produsen terus belajar mengikuti Trend yang terjadi di pasaran. Banyaknya pameran, lomba dan kebutuhan sehari-hari akan tanaman hias seperti untuk hotel, restoran dan kantor mewah bergengsi, mengharuskan tanaman tampil maksimal bak kontes ratu sejagat. Hal ini memacu para penemu dan creator untuk melahirkan karya2 inovatif seperti pengkilap daun. Dunia kosmetika tanaman hias telah terbuka lebar-lebar. Pengkilap daun salah satunya, sebentar lagi pasti keluar sabun lunak pencuci tanaman, peralatan ataupun pot2 cantik. Bahkan pupuk dan produk pestisida sudah dikemas demikian indah untuk menarik konsumen membelinya. Kabarnya, GOOD GROW merk yang meluncurkan pengkilap daun dengan formula GF-2, juga segera meluncurkan formula formula barunya secara berurutan. Saat ini sudah diluncurkan GF-1 dan GF-2. Semua formula yang akan diproduksi berbasis pada kecantikan tanaman. |
|
| Last Updated ( Sunday, 30 September 2007 ) |
| Next > |
|---|



